Senin, 13 Mei 2013

Tentang Polio

Virus Polio


v     Poliomyelitis atau yang lebih dikenal sebagai polio, adalah penyakit menular yang disebabkan virus polio, dan menimbulkan gejala utama berupa kelumpuhan (paralisis).
v     Penyakit ini menular melalui kontak antar manusia. Kontak dapat melalui penularan dari feses orang terinfeksi yang mengkontaminasi makanan dan minuman, untuk kemudian masuk ke mulut calon penderita. Setelah seseorang terkena infeksi polio, virus akan keluar bersama feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus. Kontak lain bisa juga langsung dari mulut ke mulut, namun hal ini sangat jarang terjadi.
v     Setelah masuk ke mulut, virus ini masuk ke saluran cerna dan menimbulkan infeksi di sana. Tidak berhenti sampai di sini, virus dapat menembus pembuluh darah usus, untuk memasuki aliran darah menuju ke sistem saraf pusat. Di sana virus menginvasi sel-sel saraf, menimbulkan kerusakan yang awalnya hanya berupa kelemahan otot dan jika parah dapat berlanjut menjadi kelumpuhan.
v     Gejala yang jelas ini muncul dalam 3 bentuk yang berbeda, yakni :
Ø                        Bentuk yang ringan disebut juga abortive polio.
Pada bentuk ini, polio tidak menunjukkan gejala kelumpuhan. Penyakit ini hanya menimbulkan gejala ringan berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, dan nyeri perut. Gejala ini jarang parah, dan bertahan tidak lebih dari tiga hari. Pada bentuk ini, penyakit polio akan sembuh spontan dan pulih sepenuhnya.
Ø                        Non paralitik polio
Pada keadaan ini, gejala berjalan lebih serius, bertahan selama 1-2 minggu. Timbul demam, sakit kepala, muntah, dan diare. Pada otot mulai tampak gejala, seperti kekakuan, kete-gangan, dan nyeri otot. Terkadang bentuk ini berjalan lebih serius hingga gejala yang mirip radang selaput otak, seperti timbulnya sensitivitas terhadap cahaya dan kaku leher/kuduk.
Ø                        Paralitik polio
Bentuk inilah bentuk polio yang sering disebutkan. Sebenarnya persentase terjadinya sangat kecil dibanding seluruh infeksi polio, yakni 0,1-2 persen kasus.

Penderita Polio














v     Pada penderita yang tidak memiliki kekebalan (belum divaksin) virus akan menyerang seluruh sel saraf terutama sel saraf motorik (sel yang mengatur pergerakan otot). Sel saraf motorik ini tidak punya kemampuan regenerasi hingga jika terinfeksi sifatnya akan permanen. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan kaki menjadi lemas. Kondisi ini terjadinya cepat (dalam hitungan jam), disebut acute flaccid paralysis (AFP).
v     Pada keadaan yang sangat parah, batang otak dapat ikut terserang. Di batang otak terdapat saraf motorik yang mengatur berbagai fungsi vital kehidupan manusia, terutama fungsi pernafasan. Jika batang otak terserang penderita   dapat mengalami  gagal dalam bernafas sehingga akan mengancam nyawanya.
Dari mulai terinfeksi hingga lumpuh ada beberapa tahap yang terjadi, terbagi dalam 3 stadium:
Ø                  Masa Inkubasi.
Masa ini dimulai saat virus sudah masuk ke tubuh namun belum menunjukkan gejala. Biasanya berlangsung 3-35 hari.
Ø                  Stadium Akut.
Fase ini berjalan sejak muncul-nya gejala hingga 2 minggu. Ditandai dengan suhu tubuh meningkat, jarang terjadi lebih dari 10 hari, kadang disertai sakit kepala dan muntah. Kelumpuhan terjadi pada seminggu permulaan sakit. Kelumpuhan bersifat asimetris sehingga menimbulkan deformitas (gangguan bentuk tubuh) yang cenderung menetap bahkan lebih berat. Sebagian besar mengenai kaki. Kelumpuhan berjalan bertahap dan memakan waktu 2 hari hingga 2 bulan.
Ø                  Stadium subakut
Dimulai dengan menghi-langnya demam dalam waku 24 jam. Kadang, disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Fase ini cukup panjang, selama 2 minggu hingga 2 bulan. Pada fase ini gejala-gejala berat mulai menghilang.
Ø                  Konvalesens
Ini adalah fase dimana gejala telah hilang namun virus belum sepenuhnya hilang. Berlangsung sangat lama, selama 2 bulan sampai 2 tahun. Mulailah terjadi pemulihan kekuatan otot yang sebelumnya melemah, dimana 50-70 persen kekuatan otot pulih dalam waktu 6-9 bulan. Setelah 2 tahun, tidak akan terjadi lagi pemulihan kekuatan otot.
v     Kecacatan yang timbul adalah aki berbentuk huruf "X" atau "O". Bentuk ini tidak hilang, karena terjadi saat masa pertumbuhan, sehingga kecacatan akan menetap dan terjadi gangguan pertumbuhan tulang.
v     Polio tidak bisa diobati. Jika terkena jenis yang paralitik, sekali terjadi deformitas, maka akan menetap selamanya dan menjadin cacat. Pengobatan hanya untuk meredakan gejala. Kenyataan akan sangat berbeda jika kita sudah diimunisasi. Sekali divaksinasi, tubuh manusia akan menghasilkan antibodi terhadap virus, sebagai proteksi seumur hidup.
v     Pemahaman masyarakat yang baik terhadap waktu pelaksanan ini, akan mengahsilkan kesadaran berimunisasi yang diharapkan. Setiap ibu harus acuh untuk mendapatkan imunisasi polio ketika anaknya lahir. Kemudian melakukan peman-tauan hingga usia 15 tahun untuk melengkapi semua imunisasi.
v     Imunisasi yang dianjurkan adalah 4 kali. Pertama kali diberikan saat lahir, kemudian pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan terakhir 18 bulan. Pada usia 5 dan 15 tahun, dianjurkan untuk melakukan pengulangan imuni-sasi agar memperkuat imunitas tubuh.











v     Kesehatan adalah hak setiap manusia. Untuk mendapatkan hak terkadang kita harus berjuang. Bentuk perjuangan terkini menghadapi polio adalah dengan membawa anak untuk diimunisasi, saat anak sedang sehat, dengan jadwal yang teratur. Tanpa imunisasi, mungkin sebagian besar anak dapat tumbuh sehat tanpa polio. Namun sekali terinfeksi, sungguh ironis akibatnya. Anak akan menjadi cacat dan menjadi tanggungan malu bagi dirinya seumur hidup.

Source : Berbagai Sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar